Cita-Citaku Harapanku
Pepatah mengatakan " Kejarlah Cita-Citamu Setinggi langit dan Seluas Cakrawala", makna yang sangat dalam bagi pencapaian berdirinya Rumah Belajar Weka Naila. Kata-kata sederhana itulah yang menginspirasi pembentukan Rumah Belajar Weka Naila.
Flashback ke jaman SMA, saat itu pada tahun 2006,saat jam kosong sambil menanti waktu pulang,tiga orang anak yang bernama Weny, Fitri, dan Ika sedang berbincang-bincang santai di serambi aula sekolah.
Seorang anak yang bernama Ika bertanya, " Apakah keinginanmu di masa mendatang?", dan anak yang bernama Fitri langsung menjawab, "Aku ingin membuat masjid. Masjid adalah tempat ibadah, dengan masjid semua orang dapat beribadah."
Kemudian anak yang bernama Ika pun mengungkapkan keinginannya, " Kalau aku ingin membuat sebuah sekolah. dengan sekolah semua anak dapat menimba ilmu."
Dan setelah itu, Ika dan Fitripun bertanya kepada Weny, yang dari tadi masih berpikir apa yang diinginkannya di masa mendatang, dan Weny pun menjawab" Aku ingin membuat sebuah bimbingan belajar. dengan bimbingan belajar anak dapat belajar dengan riang dan gembira." Lambat laun merekapun lulus SMA, dan melalui perjalanan kehidupan masing-masing.
Dari sekelumit kisah singkat diatas ada seorang anak yang bermimpi untuk membuat bimbingan belajar. Dewasa ini sudah banyak bimbingan belajar yang berdiri di sepanjang daerah tempat tinggal warga. Oleh karena itu, sang pemimpi pun merubah sedikit mimpinya untuk menjadikan mimpi itu menjadi lebih baik dan nyata, yaitu dengan mendirikan Rumah Belajar Weka Naila. Yakni sebuah Rumah yang memberi kemudahan kepada siapapun untuk belajar, menimba ilmu, memperoleh wawasan dan pengetahuan untuk menjadi insan yang lebih baik. Aamiin.
Inovasi Pendidikan
Pendidikan sebagai proses perolehan pengalaman belajar berguna bagi peserta didik, dengan harapan peserta didik mampu mengembangkan potensi yang dimiliki, sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya. PP nomor 19 tahun 2005 Pasal 13 dinyatakan bahwa kurikulum untk tingkat pendidikan dasar dan menengah atau bentuk lain yang sederajat dapat memasukkan pendidikan kecakapan hidup perlu memasukkan pendidikan kecakapan hidup, meliputi :kecakapan personal (pribadi), kecakapan sosial, kecakapan akademik, dan kecakapan vokasional.
Secara umum pendidikan kecakapan hidup bertujuan memfungsikan pendidikan sesuai fitrahnya,yaitu mengembangkan potensi peserta didik dalam menghadapi perannya mendatang, Pendidikan kecakapan hidup menurut jenisnya dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu kecakapan hidup generik (generic life skill/GLS) dan kecakapan hidup spesifik (specific life skill/SLS).
Inovasi Pendidikan di Negara Maju kini juga mengarah kepada pengembangan kecakapan hidup. Model pembelajaran terpadu (integreted learning) dan pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) merupakan model pembelajaran yang mengarah pada pengembangan kecakapan hidup (Blanchard, Unversity of Washington, 2001).Model pendidikan realistic (realistic education) yang kini sedang dikembangkan, juga merupakan upaya mengatur pendidikan sesuai dengan kebutuhan nyata peserta didik, agar hasilnya dapat diterapkan dengan memecahkan dan mengatasi problema hidup yang dihadapi (Effendi, M, 2009:162).
Demikian halnya dengan sistem pembelajaran yang dikembangkan oleh Rumah Belajar Weka Naila yang menitikberatkan pada kebutuhan peserta didik demi kemajuan dan kesuksesan peserta didik untuk memecahkan masalah yang dihadapi di masa mendatang. Oleh karena itu, tentor diharap tidak hanya menjadi guru atau pengajar namun juga kawan pemberi solusi pada peserta didik.
Menyeimbangkan Kerja Otak Anak
Dewasa ini, kurikulum di dunia pendidikan lebih menekankan pada aspek otak kiri. Terbukti dengan pelajaran tertentu, yang lebih menekankan pada otak kiri seperti Matematika, IPA, memiliki jam pelajaran yang lebih banyak daripada mata pelajaran Olahraga (PJOK)dan Seni Budaya dan Prakarya.
Perlu kita ketahui bahwa menyeimbangkan kerja otak kanan dan kiri merupakan langkah paling efektif untuk mendapatkan kreativitas dan prestasi. Otak kanan dan kiri selalu berusaha untuk seimbang dalam bekerja. Cobalah mengamati anak setiap harinya. Mengapa anak lebih suka bermain game atau membaca komik daripada belajar untuk mempersiapkan ujian sekolah? bermain game dan membaca komik merupakan langkah anak anda dalam menyeimbangkan kerja otaknya. Gambar, warna, dan cerita khayalan adalah kerja otak kanan, sedangkan teks adalah kerja otak kiri (Edward, Carolin, 2009:91-91).
Berdasarkan hal tersebut, Rumah Belajar Weka Nailapun ikut mewujudkan keseimbangan kerja otak kanan dan kiri anak, sehingga dapat mencapai prestasi yang diharapkan dengan optimal. Sehingga kegiatan dalam Rumah Belajar Weka Naila juga disusun tak hanya untuk melatih otak kiri, namun beberapa kali anak juga diberi keleluasaan dalam melatih otak kanannya yaitu dengan permainan game, dan menggambar serta mewarnai.
Mengoptimalkan Kecerdasan Anak
Memahami makna belajar sering dipersepsikan sebagai tindakan duduk diam di dalam kamar belajar, mendengarkan penjelasan guru, dan membaca textbook.Tentu saja persepsi ini mengandung kesalahan yang fatal, karena justru bisa membuat anak menjadi tertekan, yang mungkin akan berujung pada stress.
Makna belajar sesungguhnya adalah bagaimana anak menerima informasi dari dunia sekitarnya, dan bagaimana dia memproses dan menggunakan informasi tersebut. Mengingat setiap anak memiliki keunikan tersendiri, dan gaya belajar masing-masing anakpun berbeda.
Gaya belajar anak dipengaruhi oleh faktor bawaan, ada anak yang memiliki fisik kuatdan prima,sehingga memiliki gaya belajar kinestetik. Atau ada anak yang memiliki rasa seni tinggi sehingga gaya belajar visual lebih melekat pada dirinya.
Selain itu, pola asuh juga memegang peran penting dalam kemunculan gaya belajar seseorang. Maksudnya, gaya belajar ditentukan oleh sejauh mana orang tua melakukan stimulasi terhadap masing-masing indra anaknya (Edward, Caroline, 2009:45-46).
Berdasarkan hal tersebut, Rumah Belajar Weka Naila merupakan sebuah sarana untuk mengoptimalkan kecerdasan anak, dengan menyesuaikan gaya belajar yang dimiliki anak. Pengajar (Tentor) merupakan fasilitator yang mengajar dengan memperhatikan gaya belajar yang dimiliki anak. Pengajar (Tentor) selain melakukan observasi selama anak belajar di Rumah Belajar Weka Naila, juga menjalin kerja sama yang baik dengan orang tua. Disini anak berusaha untuk tidak jenuh saat belajar, namun juga dapat menguasai materi sekolah sesuai kurikulum saat ini. Hal yang sama juga diterapkan dalam Rumah Belajar Indonesia.
Belajar 3 S ( Santai, Serius, Sukses)
Kebiasaan belajar yang selalu diterapkan keluarga Pak Suparman (nama ayah kami) sangatlah mengesankan hingga sekarang. Belajar dengan ikhlas dan tanpa paksaan selalu diterapkan di rumah dari mulai penulis berusia 7 tahun. Kebiasaan tersebut diturunkan kepada adik-adik dan juga diikuti oleh tetangga-tetangga di dekat rumah.
Dengan modal sebuah bangku dan banyak sumber buku sebagai media belajar, tiap senja datang, saat itu anak-anak tetangga sudah berbondong-bondong pergi ke rumah. Mereka bersiap untuk mempelajari pelajaran esok, mengerjakan PR yang sekiranya menjenuhkan jika dikerjakan sendiri, bahkan tak jarang Pak Suparman memberi penjelasan kepada anak-anak yang belum paham.
Pak Suparman memiliki prinsip dalam belajar 3 S ( Santai, Serius, Sukses). Kebiasaan ini diikuti oleh kedisiplinan seorang ibu Siti Patimah (nama ibu kami) yang selalu setia menemani saat kami belajar.
Prinsip 3 S yang pertama adalah Santai, Belajar dibuat santai, sehingga pelajaran yang didapat bisa masuk dengan mudah ke dalam otak pikiran kita. Prinsip belajar kedua, Serius. Belajar harus dilakukan dengan serius yang artinya sungguh-sungguh, sesuai dengan kata bijak dalam bahasa Arab mengatakan "Man jadda wa jadda" artinya barangsiapa yang ingin berhasil harus berusaha sungguh-sungguh. Prinsip yang ketiga Sukses, Sukses akan datang saat kita melakukan belajar dengan sungguh-sungguh, meski saat menerima pelajaran bisa dilakukan kegiatan santai, yang tidak membuat otak tegang dan lelah. Sukses akan tercapai dengan ikhtiar dan tawakkal yang dilakukan oleh seseorang. Aamiin.