Pembelajaran Individual
Model Pembelajaran Individual menawarkan solusi terhadap masalah peserta didik yang beraneka ragam tersebut. Pembelajaran individual memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menentukan sendiri tempat, waktu, kapan dirinya merasa siap untuk menempuh ulangan atau ujian. Pembelajaran individual mempunyai beberapa ciri, sebagai berikut :
1.Peserta didik belajar sesuai dengan kecepatannya masing – masing, tidak pada kelasnya.
2. Peserta didik belajar secara tuntas, karena peserta didik akan ujian jika mereka siap.
3. Setiap unit yang dipelajari memuat tujuan pembelajaran khusus yang jelas.
4. Keberhasilan peserta didik diukur berdasarkan sistem nilai mutlak. Ia berkompetisi dengan angka bukan dengan temannya.
Pembelajaran yang dilakukan di Rumah Belajar Weka Naila mengedepankan ketuntasan peserta didik dalam belajar, dengan kata lain peserta didik mendapat materi yang tak sama dengan temannya, tergantung pada tingkat ketuntasan penguasaan materi peserta didik.
Metode dalam Mendidik Anak
Metode yang digunakan dalam mendidik anak, diantaranya:
1. Koersif
Metode ini biasanya digunakan oleh orang tua yang otoriter. Artinya orang tua memegang kendali sepenuhnya atas segala segala hal yang diinginkan dan dilakukan anak. Pola didik ini bertitik tumpu pada "reward and punishment". Pujian akan diberikan pada anak, jika si anak melakukan hal-hal sesuai keinginan orang tua. Sebaliknya, hukuman diberikan jika anak melakukan sesuatu yang melenceng dari kehendak orang tua. Sisi positif dari pola didik ini adalah bahwa anak akan akan cepat tahu dan mengerti mana yang baik, mana yang kurang baik. Sedangkan sisi negatifnya, anak akan mencari perhatian dari lingkungannya. Akibatnya daya kritis si anak menjadi berkurang. Pola berpikirnya terobsesi dari orang tuanya.
2. Permisif
Pola didik ini kebalikan dari koersif. Pola didik ini menerapkan kemandirian yang salah dan tidak sesuai dengan kaidah. Dalam pola didik ini, orang tua menyerahkan segala sesuatunya pada anak, karena menganggap si anak mempunyai kebebasan dalam mengekspresikan semuanya agar bisa mandiri. Jika anak melakukan kesalahan, orang tua akan mudah memaklumi dan memaafkan segala halyang diperbuatnya. Pola didik ini biasanya berimbas pada pribadi anak yang cenderung liar dan mencari perhatian ke luar rumah, karena anaktidak merasa diperhatikan oleh orang tuanya.
3. Dialogis
Pola didik ini adalah yang terbaik. Menyayangi, memanjakan anak, melatih kemandirian, bersikap tegas dan mempunyai batasan tertentu merupakan poin penting dalam pola didik ini.
Orang tua adalah pemegang kendali itu memang benar adanya, namun tetap harus memperhatikan kondisi anak. Bersikap tegas yang kaku tentu akan membuat anak menjadi tertekan dan stress. Mendidik menyesuaikan dengan kondisi emosi dan kecerdasan anak merupakan langkah terbaik dalam mendidik anak (Edward, Caroline, 2009:143-144).
Kegiatan Pembelajaran Inovatif dan Kreatif
Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih kegiatan siswa dalam pembelajaran sebagai berikut:
1. Hendaknya memberikan peluang bagi siswa untuk mencari,mengolah, dan menemukan sendiri pengetahuan , di bawah bimbingan guru atau orang dewasa.
2. Menggunakan pola yang mencerminkan ciri khas dalam pengembangan keterampilan dasar mata pelajaran yang bersangkutan, misalnyaobservasi, penyelidikan, eksperimen, pemecahan masalah, simulasi, wawancara dengan narasumber, pengembangan teknologi, penggunaan peta, foto, dan pemanfaatan kliping.
3. Disesuaikan dengan ragam sumber belajar dan sarana pelajaran yang tersedia.
4. Bervariasi dengan mengkombinasikan antara kegiatan belajar perseorangan, kelompok, dan klasikal.
5. Memperhatikan pelayanan terhadap perbedaan individual siswa sepertibakat, kemampuan, minat, latar belakang keluarga, sosial ekonomi, dan budaya, serta masalah khusus yang dihadapi siswa yang bersangkutan (Muhtar, 2008:7).
Berdasarkan pernyataan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan pembelajaran siswa memang harus dibuat secara menarik dan bervariasi sesuai kebutuhan siswa untuk meningkatkan kemajuan siswa. Hal ini juga diharapkan dapat dilakukan di Rumah Belajar Weka Naila.
Tips Mendisiplinkan Anak dalam Belajar
Cara untuk mendisiplinkan anak sebagai berikut:
1. Tegas
2. Jangan plin plan
3. Kompromi
4. Beri Bimbingan
5. Beri Peringatan
6. Beri Alasan
7. Jangan Tunda Hukuman
8. Tetap Tenang
9. Bertekuk Lutut
10. Jangan Ceramah
11. Tunjukkan Sikap Positif
12. Bermain Bersama
13. Hindari Rasa Jengkel
14. Jangan Menampar
15. Jangan Menyuap
16. Bersikap Dewasa
17. Hadapi Rengekan
18. Contoh Baik
(Edward, Caroline, 2009:121-129)
Cara-cara yang telah disebutkan diatas memberikan gambaran kepada orang tua bagaimana menerapkan disiplin anak. Komunikasi antara orang tua dan anak sangat penting dilakukan. Di dalam Rumah Belajar Weka Naila inipun, pengajar (tentor) berusaha mendisiplinkan anak sebagaimana cara-cara yang telah disebutkan.
Mengoptimalkan Kecerdasan Anak
Memahami makna belajar sering dipersepsikan sebagai tindakan duduk diam di dalam kamar belajar, mendengarkan penjelasan guru, dan membaca textbook.Tentu saja persepsi ini mengandung kesalahan yang fatal, karena justru bisa membuat anak menjadi tertekan, yang mungkin akan berujung pada stress.
Makna belajar sesungguhnya adalah bagaimana anak menerima informasi dari dunia sekitarnya, dan bagaimana dia memproses dan menggunakan informasi tersebut. Mengingat setiap anak memiliki keunikan tersendiri, dan gaya belajar masing-masing anakpun berbeda.
Gaya belajar anak dipengaruhi oleh faktor bawaan, ada anak yang memiliki fisik kuatdan prima,sehingga memiliki gaya belajar kinestetik. Atau ada anak yang memiliki rasa seni tinggi sehingga gaya belajar visual lebih melekat pada dirinya.
Selain itu, pola asuh juga memegang peran penting dalam kemunculan gaya belajar seseorang. Maksudnya, gaya belajar ditentukan oleh sejauh mana orang tua melakukan stimulasi terhadap masing-masing indra anaknya (Edward, Caroline, 2009:45-46).
Berdasarkan hal tersebut, Rumah Belajar Weka Naila merupakan sebuah sarana untuk mengoptimalkan kecerdasan anak, dengan menyesuaikan gaya belajar yang dimiliki anak. Pengajar (Tentor) merupakan fasilitator yang mengajar dengan memperhatikan gaya belajar yang dimiliki anak. Pengajar (Tentor) selain melakukan observasi selama anak belajar di Rumah Belajar Weka Naila, juga menjalin kerja sama yang baik dengan orang tua. Disini anak berusaha untuk tidak jenuh saat belajar, namun juga dapat menguasai materi sekolah sesuai kurikulum saat ini. Hal yang sama juga diterapkan dalam Rumah Belajar Indonesia.
Program Unggulan Jarimatika
Rumah belajar Weka Naila selain bertujuan untuk membentuk insan yang tekun dan berkualitas, juga memberikan fasilitas metode menghitung cepat arimatika dengan nama Program Unggulan Jarimatika. Jarimatika merupakan cara menghitung menggunakan jari tangan dengan teknik tertentu.
Jarimatika yang kami tawarkan sangat cocok untuk anak TK dan SD, yang sulit dalam pelajaran menghitung. Dengan teknik yang dipopulerkan oleh Lembaga Putra Bangsa yang berada di Kota Malang, serta difasilitasi oleh modul khusus jarimatika menambah pengetahuan dan ketangkasan anak dalam menghitung cepat.
Jarimatika memiliki jargon nama "Jari Ajaib". Jarimatika juga memiliki yel-yel sebagai berikut:
Salam Jari Ajaib
tangan kanan untuk satuan
tangan kiri untuk puluhan
digoyang-goyang
menari-nari
Yes Yes OK
Rumah Belajar WEKA NAILA merupakan salah satu
Rumah Belajar Tulungagung yangmana letaknya berada di Campurdarat, Tulungagung. Rumah belajar ini dikelola oleh Weny Ika Fitriastuti yang merupakan pencetus ide untuk memberikan sarana dalam belajar siswa. Kesadaran akan pentingnya belajar membuat inovasi akan rumah belajar yang ramah terhadap siswa sekaligus orang tua siswa yang merasa bahwa sulitnya memotivasi anaknya untuk belajar.
Kita tahu orang tua selalu menginginkan kesuksesan diraih buah hati tentunya dalam dunia pendidikan. Tak sedikit yang rela mengeluarkan jutaan rupiah memasukkan pada bimbingan belajar ternama dengan tujuan yang sama demi kesuksesan pendidikan anaknya. Seakan hari-hari anaknya terisi dengan pendidikan formal dari jam 7 pagi hingga larut malam. Seakan masa bermain dipaksakan untuk duduk diam dan mendengarkan apa yang guru sampaikan. Menurut saya menarik untuk dikaji cara belajar semacam ini karena buah hati juga butuh proses menikmati pelajaran yang ia dapatkan. Menumbuhkan jiwa pelajar bukan hanya dituntut untuk selalu duduk diam di tempat formal. Kadang sesuatu yang seperti itu dapat menumbuhkan pada peserta didik rasa bosan dan menjenuhkan. Buah hati anda bukan robot yang dapat diatur sesuai yang kita perintahkan. Pendekatan dari hati sangat penting untuk memperoleh jawaban dari buah hati. Menurut saya, menjadi orang tua yang bisa mengerti kemauan buah hati adalah orang tua yang baik. Meskipun hanya sekedar mendengar mimpi dan impian-impiannya, mendengar imajinasinya yang mungkin tak masuk akal, dan bahkan ikut bermain dalam peran yang ia inginkan adalah impian anak pada umumnya.
Sebagian orang tua terlalu percaya diri bahwa ketika dimasukkan dalam suatu lembaga belajar dan pembelajaran anaknya pasti bisa menguasai materi. Pada saat buah hati mendapatkan nilai jelek mereka pasti memarahi dengan alasan sudah dimasukkan bimbel mahal kok tetap saja nilai tak membaik. Nah, itulah masalah dalam sekitar kita. Sesibuk apapun orang tua sangat perlu untuk memantau pemahaman buah hatinya. Bukan lepas kendali dan menilai dari hasil akhirnya. Semua anak pasti memiliki impian untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Dan mereka pasti menjalani proses yang disarankan orang tua kadang meski dengan bosan, marah, dan terpaksa. Perlu ditanamkan kepercayaan antara buah hati dan orang tua dalam proses mendidik.
Dalam
rumah belajar kami mencoba menerapkan proses belajar sesuai dengan karakter dari peserta didik. Tentunya proses ini dilakukan tak lepas dari kompetensi-kompetensi layaknya di sekolah. Pendekatan yang dilakukan dalam proses belajar sangat penting agar peserta didik mampu menyerap materi tanpa rasa beban. Seperti visi dan misi yang sudah dirancang sejak awal berdirinya
rumah belajar Weka Naila ini bertumpu pada penumbuhan motivasi belajar pada generasi muda. Membuktikan bahwa belajar adalah salah satu cara kita untuk mewujudkan impian yang sudah kita bangun sejak kecil. Interaksi antara pengajar dan pelajar lebih dekat dan tetap ada sopan santun disana.
Harapan kami kedepannya dimulai desa yang asri ini kita buka wawasan baru akan pentingnya dunia pendidikan dalam kehidupan kita.
Rumah belajar Tulungagung yang ikut berpartisipasi dalam membangun tunas bangsa agar menjadi lebih baik kedepannya.