Rumah Belajar Tulungagung


Rumah Belajar WEKA NAILA merupakan salah satu Rumah Belajar Tulungagung yangmana letaknya berada di Campurdarat, Tulungagung. Rumah belajar ini dikelola oleh Weny Ika Fitriastuti yang merupakan pencetus ide untuk memberikan sarana dalam belajar siswa. Kesadaran akan pentingnya belajar membuat inovasi akan rumah belajar yang ramah terhadap siswa sekaligus orang tua siswa yang merasa bahwa sulitnya memotivasi anaknya untuk belajar.

Kita tahu orang tua selalu menginginkan kesuksesan diraih buah hati tentunya dalam dunia pendidikan. Tak sedikit yang rela mengeluarkan jutaan rupiah memasukkan pada bimbingan belajar ternama dengan tujuan yang sama demi kesuksesan pendidikan anaknya. Seakan hari-hari anaknya terisi dengan pendidikan formal dari jam 7 pagi hingga larut malam. Seakan masa bermain dipaksakan untuk duduk diam dan mendengarkan apa yang guru sampaikan. Menurut saya menarik untuk dikaji cara belajar semacam ini karena buah hati juga butuh proses menikmati pelajaran yang ia dapatkan. Menumbuhkan jiwa pelajar bukan hanya dituntut untuk selalu duduk diam di tempat formal. Kadang sesuatu yang seperti itu dapat menumbuhkan pada peserta didik rasa bosan dan menjenuhkan. Buah hati anda bukan robot yang dapat diatur sesuai yang kita perintahkan. Pendekatan dari hati sangat penting untuk memperoleh jawaban dari buah hati. Menurut saya, menjadi orang tua yang bisa mengerti kemauan buah hati adalah orang tua yang baik. Meskipun hanya sekedar mendengar mimpi dan impian-impiannya, mendengar imajinasinya yang mungkin tak masuk akal, dan bahkan ikut bermain dalam peran yang ia inginkan adalah impian anak pada umumnya.

Sebagian orang tua terlalu percaya diri bahwa ketika dimasukkan dalam suatu lembaga belajar dan pembelajaran anaknya pasti bisa menguasai materi. Pada saat buah hati mendapatkan nilai jelek mereka pasti memarahi dengan alasan sudah dimasukkan bimbel mahal kok tetap saja nilai tak membaik. Nah, itulah masalah dalam sekitar kita. Sesibuk apapun orang tua sangat perlu untuk memantau pemahaman buah hatinya. Bukan lepas kendali dan menilai dari hasil akhirnya. Semua anak pasti memiliki impian untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Dan mereka pasti menjalani proses yang disarankan orang tua kadang meski dengan bosan, marah, dan terpaksa. Perlu ditanamkan kepercayaan antara buah hati dan orang tua dalam proses mendidik.

Dalam rumah belajar kami mencoba menerapkan proses belajar sesuai dengan karakter dari peserta didik. Tentunya proses ini dilakukan tak lepas dari kompetensi-kompetensi layaknya di sekolah. Pendekatan yang dilakukan dalam proses belajar sangat penting agar peserta didik mampu menyerap materi tanpa rasa beban. Seperti visi dan misi yang sudah dirancang sejak awal berdirinya rumah belajar Weka Naila ini bertumpu pada penumbuhan motivasi belajar pada generasi muda. Membuktikan bahwa belajar adalah salah satu cara kita untuk mewujudkan impian yang sudah kita bangun sejak kecil. Interaksi antara pengajar dan pelajar lebih dekat dan tetap ada sopan santun disana.

Harapan kami kedepannya dimulai desa yang asri ini kita buka wawasan baru akan pentingnya dunia pendidikan dalam kehidupan kita. Rumah belajar Tulungagung yang ikut berpartisipasi dalam membangun tunas bangsa agar menjadi lebih baik kedepannya.

Riwayat Nama Weka Naila


Riwayat Nama Weka Naila



        Hari itu, Kamis, bertepatan dengan tanggal 15 Oktober 2009, saat pertama kos di Jl. Mayjen Panjaitan Gang XIII/ No.55 Malang, berbekal dengan tekat dan sebuah harapan serta bermula dari saran seorang teman mbak Yunita namanya, aku memulai usaha yang bermodal pikiran dan waktu luang yaitu mendirikan sebuah rumah belajar. 
        Saat itu, aku masih haus akan ilmu pengetahuan, pekerjaan, bahkan uang atau materi. Apapun yang menghasilkan uang, akan kukejar sepenuh hati walaupun harus terseyok seyok ragaku yang kecil ini. Tiap jalan di Kota Malang aku tapaki, waktu demi waktu. Walau terkadang saat perut keroncongan harus ditahan demi mendapat sesuap nasi dan sayuran,hee....
      Niat awal yang diinginkan orang tua agar aku bisa melanjutkan pendidikan Sarjana (S1) harus kuurungkan. Mengapa? tentunya karena faktor B dan D. yaitu Biaya dan Dana. Dimana adik-adikku yang kecil,masih memerlukan biaya besar untuk pendidikannya. Ketika aku harus memilih untuk melanjutkan kuliah S1 atau mencari kerja? Disanalah raksasa yang tertidur itupun terbangun. Raksasa itu adalah sebuah ide atau gagasan besar yang cemerlang.. Meski ide itu lahir dari seorang yang memiliki berat bedan tidak lebih dari 40 kg. Harapan ke depanku  hanyalah sederhana, yaitu ingin membanggakan orang tua dan dapat sedikit demi sedikit menabung untuk dapat melanjutkan studi. 
      Kala itu, jangankan laptop, komputerpun aku tidak punya, brosur kubuat dengan mengetik di rental dekat kos-kosan. Kemudian kufotokopi, tidak banyak hanya sekitar 10x saja. Kemudian aku berjalan menyusuri rumah-rumah di sekitar gang tersebut untuk membagi-bagikan brosur sembari menawarkan jasa les kepada ibu-ibu yang mempunyai anak dari TK sampai SD. Tatkala di awal pembuatan brosur rumah belajar tersebut kuselipkan sebuah doa dan tujuan mulia yaitu berharap anak-anak akan senang belajar dan selalu merasa belajar adalah kebutuhan seorang pelajar bukan hanya sebuah tugas yang jika dilaksanakan sekali sudah selesai namun belajar harus dilakukan secara berkala, bertahap, dan berkelanjutan.
       Walaupun disana aku masih terhitung menjadi anak kos baru di daerah itu, kuberanikan diriku untuk membuat les di rumah kos-kosan tersebut. Alhamdulillah banyak peminatnya, mulai dari anak kelas 1 SD sampai kelas 5 SD, sekitar 20 anak yang les, dan akupun membuat jadwal 3-4 anak setiap sesi nya. Namun, usahaku untuk membuat rumah belajar itu terganggu, karena aku masih seorang anak kos, pasti pemilik kos memintaku untuk berhenti. Akhirnya rumah belajar itupun aku alihkan ke rumah anak-anak yang ikut les. Namun, inipun memiliki kendala. Dikarenakan anak-anak yang ikut les banyak, jadi mereka tak jarang membuat bising dan marah pemilik rumah yang ditempati untuk les. 
       Lambat laun, anak-anakpun banyak yang berhenti les, karena beberapa kendala yang masih sulit kuatasi, yakni aku hanya mengajar sendiri dan belum bisa mengkondisikan siswa saat belajar. Sehingga les kelompok kualihkan menjadi les privat. Maksimal ada tiga anak yang les di satu tempat.
Les berjalan sekitar 1 jam setiap harinya di setiap tempat les privat, libur hanya hari minggu saja. Les diadakan seluang waktuku, karena saat itu ada beberapa pekerjaan lain yang harus kukerjakan setiap pagi dan sore hari.
      Setiap tahunnya, Alhamdulillah selalu ada yang daftar les, meski maksimal aku hanya mendapat 10 siswa saja, namun alhamdulillah bisa kutepati setiap ada yang les dengan waktu dan hari yang tidak menentu itu. Namun aku bersyukur, karena wali murid yang anaknya ikut les benar-benar memahami bahwa aku seorang anak kos yang jauh dari rumah, yang harus pulang minimal sebulan sekali untuk melepaskan rindu bersama keluarga sekaligus juga untuk menambah uang saku. 
       Ketika aku meniti impian tersebut, aku suka menulis di akun facebook dengan akun Weka Naila setiap aku melakukan pekerjaanku. Kesukaan dengan pekerjaanku membuat rumah belajar ataupun les-lesan sederhana itu membuatku menamakan rumah belajar tersebut dengan nama Weka Naila Suka-Suka, yang mengandung arti suka suka untuk melakukan kegiatan belajar, entah waktu, biaya, bahkan bisa libur sewaktu-waktu ketika aku harus pulang ke rumah Tulungagung.

Terima kasih atas kunjungannya. Dengan adanya rumah belajar ini diharapkan dapat membantu temen-temen semua untuk memudahkan mencari informasi dalam menjaga buah hati demi kemajuan bangsa bersama mewujudkan rumah belajar Indonesia yang mampu menginspirasi dunia. Terima kasih

Mimpi yang Mengantarkanmu Kepada Cita-Citamu

Mimpi yang Mengantarmu Kepada Cita-Citamu

Mimpi? sebenarnya mimpi itu apa sih? Kita coba cek dulu di KBBI ternyata mimpi itu sebagai berikut


nah, terus apa sih hubungannya mimpi dengan cita-cita.. Mungkin bukan pelajaran baru lagi bagi kita bahwa mimpi, impian, dan cita-cita itu perlu dalam hidup. Kali ini saya akan mencoba memaparkan pendapat saya tentang pentingnya sebuah mimpi yang diwujudkan menjadi impian dan dijadikan cita-cita dalam kehidupan. Menurut saya ada tiga langkah dalam mewujudkan mimpi menjadi cita-cita.

Pada saat orang bermimpi pastinya dia tidak sadar apa yang sedang ia mimpikan. Namun bersama dengan perenungan mimpi tersebut maka akan jadi sebuah impian yang dipertahankan dengan sifat, sikap, dan perilaku yang menunjukkan bahwa mimpi tersebut benar-benar akan dia raih.

Bermimpi sudah.. apakah ada ber-impian? Bagi saya ber-impian ini merupakan prosedur penting agar cita-cita tersebut kita pertahankan. Ibarat dalam suatu sistem menurut saya impian ini merupakan proses sadar yang dilakukan manusia untuk mewujudkan cita-cita. yang mulanya hanya sekedar mimpi kini kita bisa berkembang lebih dan lebih. Cita-cita itu merupakan output dari proses yang kita bangun dalam berimpi dan mewujudkan impian. Cita-cita itu lebih global maknanya. Dan impian itu suatu perwujudan yang detail. 

Dari pada bingung inti dari artikel ini... 
jangan takut bermimpi karena cita-cita itu berawal dari mimpi yang ditancapkan menjadi impian. jangan takut gagal terus melangkah dan tanggung jawab. Keep our spirit guys 
Semoga dengan berdirinya rumah belajar ini dapat memfasilitasi saudara sebangsa dan setanah air untuk terus bermimpi, membuat suatu impian, dan bercita-cita untuk maju dan menjaga bersama negeri yang kaya ini.